• Kembali ke Website Pertuni
  • Testimony
  • Berita Tunanetra
  • Blog
  • World Blind Union Publications


  • Buku Tamu



    Selamat datang.

    Anda adalah pengunjung ke
    View My Stats Silakan isi
  • Buku Tamu
  • Terima kasih.
  • Lihat Buku Tamu




  • Blogger Tunanetra

  • Didi Tarsidi: Counseling and Blindness – www.d-tarsidi.blogspot.com
  • Rachel: Remang-remang – www.remang-remang.blogspot.com
  • Suratim: Inspirational, Motivational, Business, Financial & Adaptive Service for The Blind – www.blindentrepreneur.wordpress.com
  • Rina Prasarani Alamsyah: www.rina-alamsyah.blogspot.com
  • Asib Edi Sukarsa: Reglet – www.reglet.wordpress.com
  • Yuni Hortensia: Bersama Aku dan Tulisanku – www.yunihortensia.blogspot.com
  • Suryandaru: www.suryandar.blogspot.com
  • Nensi: Karya Sastraku yang Sederhana – www.diksi28.blogspot.com
  • Ai Cahyati: My Daily Notes – www.a-cahyati.blogspot.com
  • Fatmawati: fathie-Luarbiasa – www.fathie-luarbiasa.blogspot.com
  • Hendra: Pianoman75 – www.pianoman75.multiply.com
  • Irwan Dwi Kustanto: Angin pun Berbisik – www.anginpunberbisik.blogspot.com
  • All about Balqiz – www.allaboutbalqiz.blogspot.com
  • Zulkifli: www.kambusong.multiply.com
  • DPD Pertuni Jawa Tengah – www.pertunijateng.blogspot.com
  • Ario Surya: Informasi bagi Tunanetra - www.rio-plb.blogspot.com


  • Daftar Isi

  • Lukman Hakim Harahap, S.Ag., Ketua DPD Persatuan Tunanetra Indonesia(PERTUNI ) Sumut
  • Bart Hagen, Hakim Tunanetra
  • Miles Hilton Barber, Pilot Tunanetra Sukses Terbangkan Pesawat Microlight
  • Agung Rejeki Yuliastuti, Tunanetra yang Jadi Psikolog
  • Rama, Kiprah Seorang "Blogger" Tunanetra
  • Saharuddin, Tunanetra Pejuang HAM
  • Bambang Basuki, Tunanetra Pendiri Yayasan Mitra Netra
  • Setia Adi Purwanta, Kebutaan adalah Kesempurnaan
  • Angin pun Berbisik: Kumpulan Sajak Cinta
  • Dengan Hati Melihat Dunia
  • Hendra Jatmika Pristiwa: Kami juga Harus Melek Teknologi
  • Wacih Kurnaesih Menulis dengan Rasa
  • DIDI TARSIDI, SEMANGAT JUANG DAN KEARIFAN TUNANETRA




  • Jumat, 13 November 2009

    Lukman Hakim Harahap, S.Ag., Ketua DPD Persatuan Tunanetra Indonesia(PERTUNI ) Sumut

    Harian SUMUT POS, 08 November 2009

    “ JANGAN BEDAKAN KAMI “

    Pantang menyerah, itulah yang mengantarkan kesuksesan bagi Lukman
    Hakim Harahap, S.Ag, meski tunanetra, ia berhasil menamatkan
    pendidikan Strata-1 di Universitas Islam Bandung. Selain itu, Lukman
    yang memiliki usaha Panti Pijat Tunanetra Cemerlang Abadi di jalan
    Gajah Mada, gang Dame Medan ini dipercaya memimpin Persatuan Tunanetra
    Indonesia (Pertuni) Sumut.
    Melalui wadah berhimpun seribuan warga tunanetra ini, ia ingin
    mengangkat harkat anggotanya baik dalam hal pendidikan dan
    kesejahteraan. Bagaimana kehidupan masa kecil dan obsesi masa
    depannya, berikut hasil wawancara wartawan Sumut Pos, Deddi Mulia
    Purba dengan Ketua Pertuni Sumut di kediamannya, kemarin.

    Bagaimana kehidupan masa kecil Anda?
    Saya dilahirkan di kota Padang Sidempuan, tepatnya di kampong Lesung
    Batu, Tapanuli Selatan pada 4 September 1968. Saat lahir, saya masih
    dapat melihat. Ketika umur saya berumur 2 tahun, Bapak sudah
    meninggal. Barulah saat berumur 6 tahun, ibu kawin lagi. Karena ayah
    tiri baik, saya hanya bisa sekolah hingga kelas III SD, selain itu,
    mata juga mulai kabur hingga terakhir tak bisa melihat lagi. Tak
    pernah ke dokter, karena saya tinggal di desa terpencil.

    Setelah tak dapat melihat, apa keinginan Anda ?
    Karena dikampung, saya tak bisa melihat, tahun 1982, saya pergi ke
    Medan. Di kota ini, ada saudara yang dokter yakni dr Marwali Harahap.
    Kepada anak paman ini, saya sempat berobat selama 2 tahun tapi enggak
    sembuh.
    Marwali menyarankan saya untuk sekolah ke Bandung, Ia lalu mengirim
    saya sekolah ke panti Wiyata Guna di jalan Padjajaran Nomor 52
    Bandung. Panti ini khusus untuk membina tunanetra dan banyak memberi
    pelajaran agama, khususnya huruf Al-Qur’an Braille.
    Tahun 1984 dengan semangat, saya bersekolah di Bandung selama 2
    tahun, kursus Al-qur’an Braille yang dilanjutkan dengan belajar di
    pesantren. Saya punya keinginan dapat hafal Al-qur’an. Saya dalam
    tahap awal, sudah bisa hafal 6 juz.
    Dari panti ini akhirnya, saya dapat ijazah paket A. lalu saya
    melanjutkan pendidikan di pesantren Cicalengka di Bandung, saya selalu
    ikut mengaji bersama kiyai. Tiga tahun kemudian, melanjutkan
    pendidikan ke pesantren Al-Jawami Cilunyi selama 3 tahun mengikuti
    aliyah.

    Setelah tamat, Anda ingin melanjutkan pendidikan ke mana ?
    Tamat Aliyah, saya coba tes ujian masuk perguruan tinggi negri
    (UMPTN) dengan basic pendidikan agama IKIP Bandung. Ternyata di sana
    tidak lulus.
    Kemudian coba tes ke Institut Agama Islam Negri (IAIN) Sunan Gunung
    Jati semasa dipimpin Prof Dr Ahmad Jatmiko pada tahun 1992. tapi untuk
    ujian saja tak diterima, alas an mereka untuk tunanetra tidak ada yang
    jadi guru. Saya sempat katakana, saya mau kuliah bukan mau jadi guru,
    saya ambil jurusan dakwah karena ingin menjadi pendakwah.

    Karena gagal masuk IAIN, apa rencana Anda Selanjutnya?
    Saya tetap ingin kuliah, akhirnya saya tes ke Universitas Isalm
    Bandung (Unisba). Akhirnya saya beehasil menamatkan pedidikan S-I dam
    meraih gelar sarjana agama (S.Ag). Skripsi saya mengambil judul metode
    dakwah dikalangan tunanetra.


    Apa yang Anda lakukan setelah tamat kuliah?
    Saya mulai berdakwah . saya banyak diajak Badan Amil Zakat Daerah
    (Bazda) Sumut mengajari tunanetra untuk belajar membaca Al-Qur’an
    dengan huruf Braille. Kegiatan ini merupakan program pemberantasan
    buta huruf Al-Qur’an. Saya sambut baik karena Bazda Sumut merupakan
    penyelenggara pertama kegiatan baca Al-Qur’an dengan huruf Braille
    bagi para tunanetra. Pak Maratua Simanjuntak, selaku pimpinan Bazda
    Sumut menyatakan kegiatan percontohan.
    Akhirnya, Bazda Sumut memberi dana dan menghunjuk kami selaku
    penyelenggara pendidikan baca Al-Qur’an bagi tunanetra.
    Pada tanggal 20 April 2005, Kegiatan ini diresmikan Gubernur Sumut
    diwakili Kepala Biro Bina Sosial Pemprovsu. Muhammad Hasby Nasution,
    hadir dalam peresmian ini, sejumlah pimpinan Majelis Ulama Islam (MUI)
    Sumut dan Departemen Agama. Hingga kini, sudah ada lima angkatan.
    Selain itu saya berpikir Al-Qur’an juga harus bisa ditafsirkan. Saya
    ajukan program lanjutan mengadakan tafsir Al-qur’an sehingga dapat
    memahami Al-qur’an dan memperhalus cara membaca.
    Kini ada pelajaran tafsir Al-qur’an di jalan Sampul Medan di kantor
    Pertuni Sumut.

    Bagaimana dengan kegiatan dakwah di masjid?
    Waktu di Bandung memang sering berdakwah. Lagi pula berdakwah tidak
    mesti dari mimbar ke mimbar. Makanya setelah pulang ke Medan buka
    usaha sehingga mempermudah kegiatan dakwah di kalangan tunanetra.

    Dalam berdakwah di kalangan tunanetra, apa kendala yang dialami?
    Saya rasa tidak ada kendala, hanya saja untuk memiliki Al-qur’an
    dengan huruf arab Braille. Dalam Al-qur’an terdapat 30 juz, kalau
    Al-qur’an biasa, satu buku Al-qur’an memuat 30 juz.
    Al-qur’an dengan huruf Braille ini, tiap satu juz, satu buku. Jadi
    dibuat 30 buku karena terlalu tebal berupa huruf timbul. Harganya tiap
    satu juz Al-qur’an berkisar Rp. 50 ribu per buku. Belum lagi untuk
    buku tafsir Al-qur’an.

    Sebagai ketua Pertuni Sumut, apa obsesi Anda?
    Pertuni merupakan organisasi nasional yang ada di tingkat pusat,
    provinsi hingga kabupaten maupun kota. Tentunya ingin mengangkat
    harkat martabat tunanetra agar tak dianggap sebagai warga kelas dua.
    Juga jangan bedakan kami. Walau bekerja sebagai tukang pijat tapi
    mereka diharapkan dapat menyekolahkan anak, adik atau anggota keluarga
    lainnya. Mereka tetap memiliki potensi yang bisa digali. Hanya mata
    saja yang tidak dapat melihat, tapi yang lainnya juga normal.
    Organisasi kami tahun depan berencana menggelar musyawarah daerah ,
    untuk menyusun pengurus baru. Misi yang dikembangkan Pertuni adalah
    menuntut kesamaan hak dan kesempatan baik dalam pendidikan dan
    pekerjaan. Kita tak ingin di istimewakan.
    Melalui kegiatan Pertuni, kami membantu anggota yang mengalami
    kemalangan, sakit atau kesulitan lainnya, saat ini, sedang digagas
    kerja sama dengan perusahaan dalam penyaluran bantuan social.

    Berkaitan dengan ketiadaan formasi bagi tunanetra pada penerimaan
    CPNS 2009, apa tanggapan Anda ?
    Ini merupakan suatu bentuk diskriminasi dalam penerimaan CPNS. Kami
    juga ingin menjadi CPNS di Sumut. Padahal di daerah lain, ada
    penerimaan CPNS termasuk di lingkungan Departemen Sosial. Kita sadari
    kekurangan para tunanetra, tapi mereka masih bisa bekerja sebagai abdi
    Negara seperti menjadi guru.



    Kebanyakan tunanetra masih banyak yang turun ke jalan, menjadi
    peminta-minta. Apa upaya Anda ?
    Saya harap keberadaan mereka jangan diperalat. Kalau bisa ada bantuan
    pembinaan. Mereka tentu ingin meninggalkan itu apabila mereka memiliki
    modal usaha. Namun usaha tadi jangan dipotong. Sering bantuan Rp. 1
    juta yang diterima Rp. 800 ribu saja.
    Saat ini anggota Pertuni Sumut ada 1.300 orang. Memang banyak yang
    bekerja dipanti pijat. Ada juga yang meminta dijalan. Sebab selama ini
    masih kurang perhatian pemerintah.


    MAHIR GUNAKAN LAPTOP

    Meski mengalami cacat tunanetra, Lukman Hakim Harahap, S.Ag tak kalah
    dengan manusia normal lainnya. Bapak satu anak ini bisa membaca
    Al-qur’an dengan huruf Braille. Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia
    (Pertuni) sejak tahun 2005 ini, juga mampu menggunakan laptop untuk
    mengakses internet. Tentu saja computer yang digunakan juga computer
    yang digunakan juga computer khusus yang bisa menghasilkan suara
    pemandu. Alat ini bisa membaca satu kalimat atau kata demi kata.
    “berkat kemajuan teknologi ini pula, saya bisa mencari
    artikel-artikel penting untuk menambah muatan dakwah dan pengetahuan
    lainnya,” kata Lukman didampingi istri dan mertuanya.
    Lukman menambahkan, saat ini Pertamina dan Badan Perpustakaan, Arsip
    dan Dokumentasi (BPAD) Sumut akan menggelar pelatihan penggunaan
    computer bagi warga tunanetra yang digagasi kepala BPAD Sumut dan
    pimpinan Pertamina, OK Khaidir. “ Ke depan, diharapkan akan lebih
    banyak bantuan kerja sama semacam ini, “katanya.
    Ia juga memiliki kemampuan mengirim dan membaca short message system
    (SMS) melalui handphone tanpa perlu didampingi orang lain. Di sisi
    lain, lukman memiliki ketrampilan memijat hingga membuka usaha Klinik
    Pijat Tunanetra Cemerlang Abadi di jalan Gajah Mada, Gang Dame Medan
    sejak tahun 2003.
    “Kebanyakan mereka yang kemari, dengan biaya kusus Rp. 30 ribu. Dalam
    sehari, minimal 10 warga yang datang. Keterampilan kusus di dapat dari
    panti social baladewa di Tebing Tinggi. “ Ada juga yang minta dikusuk
    dirumahnya,”kata dia.
    Dalam memmbina rumahnya, ia menikah dengan seorang tunanetra juga.
    Kini lukman memiliki seorang anak perempuan yang dapat melihat dengan
    normal. Bocah perempuan semata wayang yang berusia empat tahun ini
    sedang belajar di TK Al-qur’an.
    Terhadap masa depan anaknya, lukman belum tahu. Hanya saja, ia ingin
    sang anak dapat membantu keluarga dan masyarakat untuk berbuat
    kebaikan. Karena masih kecil, belum tahu apa cita-citanya.
    Dimana lokasi khusus berkumpul dirinya bersama keluarganya? Lukman
    mengatakan, sering berkumpul dengan anggota Pertuni Sumut.
    “Kami bersama anggota Pertuni Sumut atau anggota keluarga, sering
    pergi ramai-ramai ke Brastagi dengan carter mobil,” katanya.

    Sabtu, 25 Juli 2009

    Bart Hagen, Hakim Tunanetra

    Pertama, Tunanetra Dilantik Jadi Hakim

    Detuk News, Selasa, 23/06/2009 16:34 WIB

    Eddi Santosa - detikNews

    Antwerpen - Ketunaan fisik seharusnya tak menghalangi hak dasar dan peluang seseorang. Di Antwerpen, Belgia, seorang tunanetra dilantik menjadi hakim dan langsung bertugas.

    Bart Hagen (32), nama tunanetra itu. Dia dilantik dan diambil sumpah oleh Ketua Pengadilan Tinggi Michel Rozie, Senin (22/6/2009).

    Hakim Tinggi Rozie mengenal baik hakim Hagen, karena dia juga dosen yang mengajar Hagen saat masih mahasiswa.

    "Saya mengenal Anda saat Anda menempuh ujian di Mahkamah Agung, di mana Anda meraih nilai tinggi. Kemudian saya memonitor Anda saat praktik kerja lapangan di Pengadilan Mechelen dan saya juga pernah mengajar Anda, di mana Anda selalu aktif berpartisipasi," Ujar Rozie, dikutip dari De Standaard.

    Hakim Hagen akan menjalankan tugas dengan cara memindai dokumen, selanjutnya dengan bantuan teknologi dokumen itu diubah ke dalam bentuk suara.

    Sementara untuk mobilitas di gedung pengadilan, dia akan dipandu oleh anjing pemandunya yang setia.

    Jumat, 10 Juli 2009

    [mitra-jaringan] Testimoni

    Salah satu acara pelengkap pada Munas Pertuni 2009 adalah testimoni. Acara ini baru pertama kali diselenggarakan dalam Munas Pertuni.
    Dalam acara ini ditampilkan teman-teman kita tunanetra yang telah membuktikan keberhasilan dalam bidangnya masing-masing, terutama keberhasilan dalam mengembangkan bidang pekerjaan nonkonvensional bagi tunanetra.
    Dalam acara testimoni kali ini telah berbagi pengalamannya:
    1. Yanto Pranoto, S.H., seorang pengacara asal Bandung. Kliennya tidak hanya berasal dari Bandung melainkan dari berbagai kota termasuk Batam dan Singapura.
    2. Suratim, seorang entrepreneur asal Jakarta. Dia adalah dealer resmi dari beberapa produk alat-alat tunanetra (software dan hardware). Wilayah pemasarannya meliputi beberapa negara Asia.
    3. Hendra, seorang seniman dan sekaligus teknisi musik asal Bandung. Hendra tidak hanya terampil memainkan alat-alat musik, dia juga terampil menggunakan teknologi komputer untuk music recording, mixing, dan editing. Dia punya studio sendiri yang dikelola dan dikerjakannya sendiri. Beberapa penyanyi kondang, termasuk penyanyi Malaysia, telah dibuatkan musiknya oleh Hendra.
    4. Antonius Silalahi, seorang penulis puisi asal Medan. Dia telah menerbitkan beberapa buku antologi puisi.

    Semoga acara ini memotivasi teman-teman lain untuk lebih kreatif dan produktif.

    Salam,
    Didi Tarsidi

    Sabtu, 18 April 2009

    Miles Hilton Barber, Pilot Tunanetra Sukses Terbangkan Pesawat Microlight

    Harian Umum PELITA, 25-Okt-2007

    PESAWAT Microlight merupakan pesawat olahraga di kalangan Federasi Aero Sport Indonesia

    (FASI) dan biasa diterbangkan para pilot-pilot dengan sertifikat
    yang diperoleh dengan seleksi sangat ketat. Salah satu persyaratan tersebut adalah sehat

    jasmani dan rohani.
    Namun kenyataannya membuktikan bahwa penyandang cacat tunanetra berhasil menerbangkan

    pesawat Microlight, Minggu (15/4). Hal yang menakjubkan itu, menimbulkan
    banyak kalangan wartawan dan masyarakat umum bertanya-tanya karena rute penerbangan yang

    ditempuh tergolong sangat luar biasa karena terbang beribu-ribu
    kilometer.
    Bahkan Miles Hilton Barber yang pernah mengantongi rekor menerbangi Kanal Inggris dengan

    menerbangkan pesawat Microlight pada ketinggian 20.300 kaki itu,
    akan menambah panjang sejarah dalam dunia olahraga mengelilingi dunia untuk menggalang dana

    guna merestorasi penglihatan para orang-orang penyandang cacat
    tunanetra yang berada di negara berkembang.
    Dengan pengalaman itu Miles Hilton Barber, merupakan orang pertama yang menggunakan sistem

    navigasi di dunia penerbangan, yang menggunakan GPS dengan keluar
    suara (audio) untuk mengetahui arah yang biasanya GPS berupa visual. Sementara kopilot hanya

    berfungsi untuk berjaga-jaga apabila kondisi udara terlalu
    parah agar dapat menentukan pendaratan darurat atau menentukan pemilihan dalam upaya

    penyelamatan terbang sebagai faktor utama.
    Yang lebih menarik lagi pilot yang telah menyandang tunanetra selama 20 tahun ini, tidak

    surut akan keinginan untuk menerbangkan Microlight menyeberangi
    lautan dan benua. Hal itu terbukti bahwa Miles Hilton Barber telah keliling dunia dengan

    menyeberangi gurun, lautan, benua, dan pulau-pulau.
    Bahkan kehidupannyapun seperti orang yang sehat jasmani, bahwa karya-karyanya sangat

    bermanfaat banyak kalangan khususnya penyandang tunanetra, juga memberikan
    motivasi dan inspirasi orang lain untuk mencapai potensi yang mereka miliki.
    Keinginannya keliling dunia untuk mengumpulkan dana yang diperuntukkan para penyandang cacat

    tunanetra di negara berkembang itu Miles Hilton Barber, singgah
    di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur disambut Ketua Harian Pengurus Besar FASI

    Marsekal Muda TNI Eko Edi Santoso, Kabid Kegiatan Umum Marsda TNI
    Eris Herryanto, Wakabid Kegiatan Umum Marsma TNI Daryatmo, Kabid Hubungan Luar Marsma TNI T

    Djohan Basyar, Kabid Humas Drs Effendi Soen, Kapotdirga Microlight
    Wunwun Mauladi, Ketua FASI Provinsi DKI Jakarta dan Anggota Pordirga.

    Selasa, 13 Januari 2009

    Agung Rejeki Yuliastuti, Tunanetra yang Jadi Psikolog

    Radar Semarang, Jumat 9 Januari 2009

    Buta di Usia 25 Tahun, Kerap Jadi Narasumber Seminar Motivasi

    Keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang bagi Agung Rejeki Yuliastuti, S.Psi untuk membantu sesama. Penyandang tuna netra ini sangat terbuka bagi
    siapa saja yang membutuhkan bantuan konseling psikologi.

    ADITYO DWI RIYANTOTO

    --------------------------------------------------------

    SIANG itu, Agung Rejeki Yuliastuti nampak sibuk mengolah data-data hasil tes psikologi seleksi guru di salah satu SMP swasta di Semarang. Kebetulan, Agung
    -begitu sapaan akrabnya dilibatkan dalam seleksi guru dari sisi psikologis para pelamar.

    "Saya biasanya lebih banyak ngantor di sekretariat Persatuan Tuna Netra (Pertuni) Jawa Tengah. Tapi, sekarang lagi punya kerjaan menyeleksi guru SMP,"
    kata Agung Rejeki Yuliastuti saat ditemui Radar Semarang di rumahnya sekaligus tempat praktik psikologis di bilangan Jalan Badak V/21 RT 11 RW VI Gayamsari,
    Semarang.

    Kendati memiliki keterbatasan penglihatan, Agung tidak lantas menyerah pada nasib. Bungsu dari lima bersaudara pasangan Hadi Sumartono dan Sumartiti ini
    tetap beraktivitas seperti biasanya. Ia pernah menjadi asisten pengajar di Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak (PGTK) Darul Qolam (1998-2000), kemudian menjadi
    konselor psikologi untuk TK dan SD Siswa Terpadu Harapan Bunda (2000 - 2007).

    "Saya start menjadi konselor sejak 2001. Klien saya mulai anak - anak dan orang tuanya, hingga para mahasiswa serta para anggota Pertuni sendiri," tuturnya


    Para kliennya sendiri awalnya tidak mengetahui kalau dirinya mengalami keterbatasan penglihatan. Namun hal itu tidak menghambatnya untuk membantu dalam
    memecahkan permasalahan. "Biasanya jika dalam konseling saya membutuhkan alat bantu, saya banyak dibantu teman," kata lajang kelahiran Semarang, 11 Juli
    1969 ini.

    Saat ini Agung kerap memberikan motivasi kepada para anggota Pertuni dan masyarakat umum untuk tidak gampang menyerah. Persoalan yang dikonsultasikan,
    umumnya soal masalah keluarga, anak, meningkatkan percaya diri, dan problem hidup lainnya. Dia juga sering diundang untuk menjadi narasumber seminar motivasi
    bagi anak - anak hingga mahasiswa.

    "Biasanya kalau untuk anak - anak, saya memberikan motivasi belajar. Kalau untuk mahasiswa ya seputar masalah remaja," ucap penerima penghargaan Kartini
    Award 2008 dari Radio Imelda FM Semarang ini.

    Wanita berjilbab ini mengaku dilahirkan dalam kondisi normal. Kedua penglihatannya juga berfungsi dengan baik. Namun di usia 25 tahun, musibah itu datang
    tanpa diduga. Berawal saat dirinya menderita radang tenggorokan. Agung pun pergi berobat ke dokter langganannya. Oleh sang dokter, dirinya diberikan obat
    antibiotik yang bukan biasa ia minum.

    "Ketika itu, dokter tidak menanyakan apakah saya alergi terhadap obat atau tidak. Saya juga tidak tanya apakah obat tersebut bisa menimbulkan alergi atau
    tidak. Ya seperti berobat biasanya," kisahnya.

    Tak diduga, selang beberapa hari setelah meminum obat tersebut, tubuhnya mulai bereaksi. Bahkan, Agung sampai dilarikan ke rumah sakit dan menjalani opname
    hingga 35 hari. Yang membut Agung shock, saat itu dokter memvonis dirinya mengidap penyakit Stevens Johnson Syndrome (SJS). Penyakit ini berefek ke fungsi
    penglihatannya yang lambat laun menjadi kabur.

    "Dua puluh hari pertama saya tidak bisa apa - apa. Dari kepala hingga kaki menghitam semua. 20 kuku saya lepas, dan rongga mulut sariawan semua. Praktis,
    saya hanya mengandalkan infus," kenangnya.

    Dan, setelah 35 hari dirawat di rumah sakit, Agung diizinkan pulang. Namun oleh dokter, dia divonis low sight vision atau penglihatan yang kurang. Hatinya
    pun berkecamuk terhadap kondisinya. Namun perlahan Agung akhirnya bisa menerima keadaannya tersebut.

    Yang membuat dirinya semakin bersyukur, kedua matanya tidak buta total. Namun masih bisa berfungsi sekalipun tidak sempurna seperti mata normal pada umumnya.
    "Saya bisa mengambil hikmah atas cobaan ini," ucapnya penuh syukur.

    Akibat musibah yang dialaminya itu, sempat menyebabkan wisuda sarjana Agung di Fakultas Psikologis Unika Soegijapranata Semarang molor. Kebetulan saat
    jatuh sakit itu, dirinya tengah menunggu masa wisuda. "Wisuda saya molor dari bulan Maret menjadi bulan September 1995," ujar Ketua DPD Pertuni Jateng
    ini.

    Agung mengaku apa yang dilakukan saat ini sebagai konselor dan psikolog adalah wujud rasa terima kasihnya kepada sang pencipta, karena telah diberikan
    kehidupan yang baru kembali. Menurutnya, rasa syukur itu tidak hanya sebatas mengucapkan terima kasih, tapi juga diwujudkan dalam bentuk bantuan kepada
    orang lain.

    "Saat sakit, saya sudah seperti mau meninggal. Tapi, saya bisa bangkit kembali. Pengalaman itu yang selalu saya berikan kepada orang lain, khususnya kepada
    para tuna netra sebagai motivasi," kata Agung yang belum lama lalu terpilih sebagai satu dari delapan tokoh wanita Jawa Tengah yang dianggap mampu menjadi
    inspirasi perjuangan perempuan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

    Agung berharap kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan para penyandang tuna netra. Saat ini, dirinya tengah menyosialisasikan software komputer khusus
    bagi kaum tuna netra di Kabupaten/Kota di Jateng. Program komputer itu dilengkapi suara yang bisa menuntun pemakainya, khususnya penyandang tuna netra,
    dalam mengoperasikannya. Sayangnya, harga software itu masih relatif mahal, sehingga para tuna netra masih sulit menjangkaunya.

    "Satu program asli harganya bisa mencapai Rp 13 juta. Harga segitu tentu sulit bagi kami. Jika ada bantuan pemerintah, paling tidak bisa mewujudkan impian
    kami untuk bisa mandiri," ujarnya.

    Menurut Agung, sudah saatnya para tuna netra mengenal komputer. Karena dari situ, akan bisa mengenal dunia internet dan bisa lebih berkarya. Selama ini,
    dirinya coba mengakali dengan cara meng-crag software komputer tersebut agar bisa digunakan banyak orang. "Tapi, itu ilegal dan dilarang," katanya. (*/aro)

    Kamis, 25 Desember 2008

    Rama, Kiprah Seorang "Blogger" Tunanetra

    Oleh PEPIH NUGRAHA, Kompas, Selasa, 8 Juli 2008

    Dalam buku tamu di blog miliknya, Eko Ramaditya Adikara menyebut dirinya
    sebagai The Indonesian Blind Blogger. Rama, demikianlah ia biasa
    dipanggil, memang seorang tunanetra. Namun, jika bertemu Rama jangan
    sekali-kali mengasihaninya sebagai orang berkekurangan. Salah-salah kita
    yang dikasihani karena terlalu banyak kekurangan!

    Contoh saat dia mempraktikkan bagaimana menulis artikel di atas papan
    ketik komputer pribadi yang diperuntukkan bagi orang normal (bukan papan
    ketik Braille), Rama mampu menulis 60 kata per menit. Kemampuan itu
    setara dengan pengetik profesional mana pun yang biasa bekerja di atas
    papan ketik QWERTY. Rama bahkan tidak membuat kesalahan satu huruf pun
    atas apa yang ia tulis secepat angin berlalu itu.

    Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang tunanetra sejak
    lahir mampu melakukan pekerjaan yang galibnya dilakukan orang normal?
    Bagaimana mungkin dia menjadi blogger yang bukan hanya sekadar mengisi
    kontennya, tetapi juga mendesain perwajahannya, bahkan dengan latar
    belakang musik digital gubahannya? Bagaimana dia bisa bekerja di atas
    laptop yang selalu dibawa ke mana pun ia pergi? Bagaimana pula Rama
    mengerti perintah komputer yang jumlahnya tak terhitung itu? ”Saya
    meninggalkan huruf Braille sejak sepuluh tahun lalu saat teknologi
    pembaca layar (screen reader) hadir. Bagi saya itu sebuah revolusi.
    Sampai sekarang praktis saya tidak menggunakan Braille lagi. Saya bisa
    membaca buku atau menulis di komputer seperti mereka yang berpenglihatan
    normal,” kata Rama saat kami temui pada sebuah acara Komunitas Multiply
    Indonesia di Jakarta, Rabu (2/7) malam lalu.

    Aplikasi pembaca layar yang digunakan Rama adalah JAWS, singkatan dari
    Job Access With Speech. Ini sebuah peranti lunak yang dikembangkan Blind
    and Low Vision Group di Freedom Scientific St Petersburg, Florida,
    Amerika Serikat. Dengan JAWS yang pertama kali diluncurkan 1989 itu,
    komputer apa pun asalkan menggunakan Microsoft Windows, dimungkinkan
    dioperasikan oleh mereka yang menderita cacat penglihatan. JAWS mengubah
    teks menjadi berbicara atau text-to-speech. Tahun 1992 JAWS lebih
    dikenal luas seiring meluasnya penggunaan Microsoft Windows.

    Rama memiliki domain sendiri untuk blog-nya, tetapi karena juga ngeblog
    di Multiply, ia hadir dalam pertemuan para blogger Multiply yang
    dimotori Sri Sarining Diyah tersebut. Pada malam itu, Rama menjadi
    ”bintang” di antara blogger dengan banyaknya peserta yang ingin berfoto
    bersama. Rama tidak canggung berfoto. Bahkan, saat kaum perempuan
    berebut berfoto ia nyeletuk, ”Wah, saya kayak raja semalam saja.”

    Screen reader yang disebut Rama adalah peranti lunak yang memungkinkan
    apa-apa yang tertulis di layar komputer atau layar ponsel bisa ”terbaca”
    dengan cara bersuara. Saat Rama menulis menggunakan pengolah kata Word,
    misalnya, mesin secara otomatis mengeluarkan suara atau mengeja apa pun
    yang ia tulis. Kesalahan huruf pun akan diketahui dan segera diperbaiki.

    Cara yang sama dilakukan Rama saat dia membaca buku Star Wars
    kesukaannya. Ia pindai (scan) halaman demi halaman buku itu agar bisa
    dibaca di layar komputer. Otomatis komputer akan membacanya dengan
    mengeluarkan suara. Jangan heran jika ia mengoleksi dan sudah membaca
    320 buku Star Wars. Pesan pendek (SMS) di ponselnya pun ditanam peranti
    lunak pembaca layar serupa untuk kebutuhan mobile, yakni TALKS. Setiap
    Rama membuka pesan pendeknya, suara mesin terdengar persis seperti apa
    yang tertulis di layar ponsel.

    *Percaya diri*

    Karena berbekal kemampuan teknologi informasi itulah Rama ke mana-mana
    membawa ponsel dan laptop Asus dengan layar 7 inci. Ponsel perlu untuk
    berkomunikasi dan mengirimkan pesan, sementara laptop diperlukan untuk
    menulis di blog atau menulis artikel untuk media online. Kegiatan
    blogging dilakukannya sejak 2003 saat blog belum booming. Untuk itulah
    buku tamunya sudah terisi oleh 464 netter yang memberi pesan.
    Sebagaimana fatsun blogger, Rama menjawab sendiri semua pesan dan
    komentar yang masuk.

    Pemuda yang kini berusia 27 tahun sejak lahir memang sudah ditakdirkan
    tunanetra. Sempat berhasil ditolong dengan operasi pembuatan diafragma
    buatan pada mata kanan sehingga mampu melihat 10 persen, tetapi setelah
    itu dia buta total. Meskipun menderita cacat netra, ayahnya, Rahadi
    Sudarsono, tidak memperlakukannya sebagai ”orang buta”. Sang ayah
    memperlakukan anaknya secara wajar sebagaimana orang normal, kecuali
    dalam hal merekam pelajaran saat Rama duduk di bangku SLTA.

    ”Bapak merekam semua buku pelajaran ke dalam kaset, sementara ibu
    membantu dengan doa dan dukungan moril,” kata Rama sebagaimana tertulis
    dalam blog-nya.

    Rasa percaya diri itulah yang ditumbuhkan Rahadi kepada anaknya,
    sementara Rama menerimanya sebagai sebuah ”tantangan” karena ternyata
    tunanetra pun bisa mandiri tanpa harus bergantung kepada orang normal.
    Itu sebabnya, di semua artikel yang ditulisnya di blog, tidak ada kata
    mengiba-iba dan meminta dikasihani. Sebagai gantinya, ia memberi harapan
    dan optimisme. Ironisnya, harapan dan optimisme itu lebih ia tujukan
    kepada orang berpenglihatan normal yang membaca blog-nya.

    *Tawarkan harapan*

    Kepada sesama tunanetra, ia menawarkan harapan dan mengajarkan pantang
    berputus asa. Misalnya, ia memberi tips yang positif bagi penyandang
    tunanetra. ”Bagi tunanetra bisa naik pesawat terbang itu suatu
    keistimewaan, maka saya pun menulis tips bagaimana naik pesawat bagi
    tunanetra,” katanya.

    ”Saya ini (tunanetra) sudah beda (dengan orang normal), tetapi saya
    ingin berbeda dari perbedaan itu,” kata Rama mengenai filosofi hidupnya.
    Saat diminta menjelaskan lebih dalam makna hidupnya itu, ia mengatakan,
    ”Saya ingin berbeda dari rekan-rekan sesama tunanetra.”

    Kalau sekadar prinsip itu, sebenarnya Rama memang beda dan bahkan
    istimewa dibanding tunanetra lainnya, setidaknya dalam urusan teknologi
    informasi. Bayangkan saja, selain menguasai berbagai program peranti
    lunak, dari yang paling ”jadul” seperti DOS (Disc Operation System),
    WordStar, sampai Windows Vista yang terbaru, ia juga mampu mengutak-atik
    perangkat keras komputer. ”Saya pernah merakit komputer. Memang pakai
    kesetrum dan ’ledakan’ segala, tetapi alhamdulillah berhasil,” kenangnya
    sambil terkekeh.

    Rama mulai mengenal ”komputer” saat berusia lima tahun, yakni ketika
    Game Atari mulai muncul dan kebetulan dimiliki salah seorang
    tetangganya. Tahun 1996, seorang mahasiswi bernama Silvi mengajarinya
    mengetik 10 jari karena terkesan dengan tekad Rama yang mati-matian
    belajar menulis di WordStar.

    Perjalanan hidup Rama dalam urusan ilmu komputer pun berubah ketika JAWS
    lahir dengan pembaca layarnya. Ibarat menemukan tongkat ajaib yang telah
    lama hilang, perjalanan Rama di bidang teknologi informasi seperti tidak
    terbendung. Ia kini ”mampu melihat” dan belajar tentang apa pun sesuka dia.

    Dia membaca hampir semua buku best seller dan mengaku apa yang sudah
    dibacanya seperti menempel terus di ingatannya. Pengalaman interaksinya
    dengan buku dan teman-teman ia tuangkan dalam catatan harian di blog-nya.

    ”Bagi saya, blog sudah menjadi kehidupan kedua,” kata Rama yang pada
    Agustus mendatang menerbitkan dua buku dari hasil ngeblog-nya itu.

    Senin, 03 November 2008

    Saharuddin, Tunanetra Pejuang HAM

    Oleh Nasrullah Nara. Kompas, Rabu, 25 Juli 2007






    Terangnya dunia hanya ia nikmati hingga usia 10 tahun. Namun, kehilangan indera penglihatan sejak usia bocah itu tak mematikan semangat dan rasa percaya diri dia untuk meneruskan hidup seperti umumnya orang lain.
    Itulah Saharuddin Daming, yang pada 21 Juni lalu dinyatakan lolos seleksi calon anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Komisi III DPR menetapkan dirinya sebagai salah satu dari 11 anggota Komnas HAM periode 2007-2012.
    Inilah kali pertama keanggotaan Komnas HAM diisi seorang tunanetra. Pada sisi lain, melalui lembaga negara ini, Saharuddin yang punya nama lain Andi Sebastian tertantang untuk menghilangkan diskriminasi bagi penyandang cacat.
    Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 28 Mei 1968, ini sempat ragu akan kelolosan dirinya dalam seleksi anggota Komnas HAM. Maklum, dari 43 calon komisioner, terdapat tiga nama komisioner lama yang sudah malang melintang dalam masalah HAM, yakni Zumrotin K Susilo, Enny Soeprapto, dan M Farid. Belum lagi sejumlah pensiunan jenderal TNI/Polri dan akademisi yang tak kalah tenarnya.
    Akan tetapi, berbekal pengalaman pribadi sebagai orang yang termarjinalkan dalam hak-hak fundamental, ditambah pengalaman dia sebagai advokat, Saharuddin tak gentar. Pengalaman empirik dan bekal ilmu sebagai magister hukum dari Universitas Hasanuddin memantapkan tekadnya untuk menegakkan lima fungsi Komnas HAM: pemantauan, mediasi, penyuluhan, pengkajian, dan penyelidikan HAM.
    "Institusi negara mulai memberi ruang bagi orang yang punya keterbatasan fisik untuk berkiprah bagi masyarakat luas," katanya ketika ditemui di Bumi Tamalanrea Permai, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (16/7).
    Di rumah bangunan perumnas tipe 45 yang masih berkonstruksi asli standar itulah Saharuddin tinggal dengan status mengontrak. Dia ditemani istrinya, Yayi Zaitun Asdy (37), berikut dua putri mereka, Fadhillah Istiqamah (8) dan Mufidatul Husnah (6).
    Anugerah
    Saharuddin sadar bahwa sebagian kalangan meragukan kiprahnya pada ranah penegakan HAM. Terlebih secara hukum dan sosial, tunanetra masih tersisihkan. Namun, di balik gulita tersimpan pula anugerah. Kegelapan yang membekapnya sejak usia 10 tahun malah menempanya untuk paham dan peka akan penindasan HAM. Dia mampu membaca hal tersirat di balik yang tersurat.
    Menjadi anggota Komnas HAM adalah bagian dari langkah panjangnya dalam penyadaran publik akan hak-hak dasar sebagai manusia dan warga negara. Tamat Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin tahun 1994, ia mulai aktif pada sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi pemberdayaan penyandang cacat. Misalnya, Yayasan Perlindungan Lembaga Konsumen dan Lembaga Bantuan Hukum. Ia juga memimpin Persatuan Tuna Netra Indonesia Sulawesi Selatan.
    Berbagai forum ilmiah yang diikutinya tak cuma memperluas wawasan advokasi, tetapi juga mempertajam bakat jurnalistiknya. Artikel-artikelnya seputar hukum dan HAM mengisi media massa. Pria berbobot 79 kg dan tinggi 178 cm ini juga sering tampil dalam berbagai seminar.
    Dengan banyaknya warga penyandang cacat yang minta didampingi, pada tahun 1998 ia menekuni profesi advokat secara profesional. Sama ketika hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dalam proses pendaftaran calon advokat pun ia dihambat panitia ujian. Keikutsertaan dia sebagai peserta ujian advokat "menggegerkan" Pengadilan Tinggi Makassar karena dianggap tak lazim. Ia dinyatakan tak lulus.
    Ketidaklulusan itu bukan sebab pertimbangan kualitas menyangkut jawaban ujian, melainkan karena dia tunanetra. Ia protes ke Mahkamah Agung, lalu dia pun dilantik sebagai advokat berstatus lulus susulan.
    Sebagai advokat, secara ekonomi hidup Saharuddin tak tergolong mapan. Maklum, dari 10-15 perkara yang ditangani per tahun, ia tak mematok tarif. Lagi pula, kliennya rata-rata kalangan menengah ke bawah. "Bisa bayar ongkos perkara saja saya sudah bersyukur," tuturnya.
    Ruang tamu rumah kontrakannya diisi sofa, kursi plastik, dan komputer. Di ruang tengah hanya ada lemari buku. Untuk mobilitas, ia mengandalkan angkutan umum dan dituntun bergantian oleh staf atau istrinya.
    Untuk menyelami bahan-bahan kepustakaan, menulis artikel, dan menyusun berkas perkara, selain mengandalkan kemampuan braille, ia dibantu tenaga staf. Dengan kondisi itu pula ia gigih mengikuti program doktor bidang hukum di Unhas.
    Awal kebutaan
    Dia lahir sebagai bungsu dari lima bersaudara. Pada usia 6 tahun, ayahnya, Daming, meninggal dunia. Saharuddin kecil terpaksa membantu ibundanya, Sitti Lai, mencari uang. Dia menjajakan kue dan es lilin, menjadi kuli bangunan dan kenek mobil, serta menjadi kuli angkut ikan di pasar. Itulah pekerjaannya di luar jam sekolah.
    Dari kerja keras itu, ia bersama ibu dan kakak-kakaknya mampu membeli rumah panggung khas Bugis. Rumah yang baru dibeli terlebih dulu harus dibongkar dan dirakit ulang di atas tanah keluarga. Rangkaian rumah satu per satu dilepas, termasuk bagian atap yang terbuat dari daun nipah. Atap yang sudah lapuk diperosotkan ke permukaan tanah dengan menyisakan partikel halus yang berhamburan.
    Saat mondar-mandir ikut membongkar rumah, tak terduga mata kanannya kemasukan partikel halus atap nipah. Itulah awal Saharuddin bermasalah dengan indera penglihatannya. Buntutnya, mata kanannya buta total.
    Bertumpu pada mata kiri, kegemaran dia membaca buku dan koran tak surut. Kebiasaan itu dilakoninya sepulang sekolah hingga malam hari. Minat baca Saharuddin yang begitu tinggi tak diimbangi penerangan memadai. Maka, penglihatan pada mata kirinya pun menjadi buta. Dokter memvonis sistem saraf dari otak ke retina matanya lumpuh.
    BIODATA
    * Nama : Saharuddin Damingalias Andi Sebastian
    * Lahir : Parepare, Sulawesi Selatan, 28 Mei 1968
    * Istri : Yayi Zaitun Asdy(37)
    * Anak:
    - Fadhillah Istiqamah(8)
    - Mufidatul Husnah (6)
    * Alamat : Jalan Kerukunan Timur Raya Blok H/12 Bumi Tamalanrea
    Permai, Makassar
    * Pendidikan:
    - Kandidat Doktor Ilmu Hukum Universitas Hasanuddin
    - Magister Hukum Universitas Hasanuddin, 2002
    - Sarjana Hukum Universitas Hasanuddin, 1994
    - SMA Datok Ri Bandang Makassar, 1988
    - SLB-A Yapti Makassar, 1985
    - SD Negeri 23 Parepare, 1980

    * Aktivitas:
    Advokat, LSM, dan Organisasi Pemberdayaan Komunitas Tuna Netra.
    * Karya tulis di antaranya:
    - Potret MarjinalisasiHak Penyandang Cacat dalam Pembangunan,
    Jurnal HAM Desember 2005
    - Praktik Kompensasi dan Klausul Baku dalam PLN, "Bisnis Indonesia"
    - Bias Penanganan Korupsidi KPU, "Media Indonesia"
    - Bias-bias Apresiasidalam Dunia Pendidikan, "Suara Pembaruan"
    - Inul Kebablasan,"Republika"
    - Delik Pers dalam Perspektif Hukum dan Keadilan, "Fajar"